If you can’t reach the sky why won’t you try to climb the mountain,it’s close enough though

Jika sudah sadar diri, maka tahap pertama sudah dilalui, menerima keadaan. Itu sudah bagus, tapi belum cukup. Yang perlu berikutnya adalah hal yang jauh lebih sulit dan lebih gila. Mencari alternatif. Dalam hidup memang banyak pilihan, apalagi selagi muda. Pilihan yangavailablesaat kita muda relatif lebih banyak daripada saat usia senja nanti. Banyak jalan ke roma memang, tapi kalau sudah tua capek juga jalannya.

Untuk itu perlu berbenah diri. You just rack of dishiprine!

Remember :

You’re the best, around. Nothing’s gonna ever bring you down

@2 months ago
one degree happier

one degree happier

@11 months ago

Doa dari box berkaca

saya bukan orang yang anti sosial selama ini, ini hanya perasaan saya akhir2 ini saja. Bukan anti sosial, hany saja saya merasa berbeda dengan orang lain. Saya merasa terbeban menjalani apa yg saya jalani saat ini. Pola hidup yg sudah sangat ga sehat, pola makan dan pola tidur ga teratur, kerjaan banyak tapi ga ada satupun yg beres. Tadi pagi saya berangakt dari kost dan melihat anak2 calon pengakader maba dengan jas alamamaternya berjalan beriringan bareng sama temannya. Rasanya baru kemarin saya masuk kampus, baru kemarin saya dengan bangganya kemana-mana selalu lengket dengan jas almamater. Yang berarti juga kemana-mana selalu bergerombol, bareng sama teman.

Sampai saat ini saya masih bingung, kenapa sih dengan saya? apa yang membuat perubahan ini? atau memang saya sudah begini dari dulu? Kemana-mana sendiri, liburan diruah -rumah aja, ga ada teman buat bareng2. Ada; tapi cuma 1-2.

Dan yang paling membuat saya terus-terusan berpikir adalah : apa memang hidup seperti ini yang saya mau? maksud saya, 10-20 tahun lagi, mau jadi kayak apa saya?

Saya cuma takut jika saya meneruskan bidang saya saat ini, lalu bisa naik dari keterpurukan saya. Lalu bekerja dan punya keluarga; suatu pagi tiba2 saya terbangun dan sadar “bukan hidup seperti ini yang aku mau”

Saat ini yang saya rasakan hanya hal2 negatif yang menjadi beban dan memberatkan rasanya. Hubungan saya sama keluarga baru saya sadar ternyata tidak terlalu dekat, renggang malah. Mungkin karena sejak SMA saya sudah terbiasa hidup jauh dari ortu. Bergaul dengan teman satu jurusan pun tidak terlalu akrab. Hanya satu hal yg selalu bisa menjadi penyemangat saya : Rika. Sementara ini dia orang yg paling dekat dan mau mengerti tentang saya. Tuhan  semoga untuk seterusnya.

Dooa saya malam ini (oh, dan maaf sekali ya Allah kalau saya juga jauh dari-MU, saya bukan bermaksud menjauh, sungguh. Hanya saja masih ada yang salah denganku) semoga ini hanya sesar-sesar minor dalam hidup saya, bukan patahan raksasa yang membawa bencana. Semoga tekanan-tekanan yang saat ini saya rasakan hanya bagian dari proses metamorfisme yang Kau rencanakan untuk mengubah saya ke bentuk yang baru, yang lebih berkilau dari sebelumnya. 

Bandung (atau dalam box berkaca dengan banyak komputer),27/06/11

-tapi sumpah, saat tua nanti saya ga akan bisa dan ga akan mungkin melupakan waktu2 seperti saat ini

@11 months ago
#life galauparah dota 

Keluarga, tentang Idealisme

Bagi saya saat ini, idealisme saya adalah: anda bisa melakukan apapun-ya apapun- selama anda yakin bisa menerima konsekuensinya, baik dan buruk. Dan karena idealisme saya ini, kadang saya merasa takut untuk fanatik terhadap sesuatu. Termasuk jatuh cinta. Dan yang akhir-akhir ini sedang euforia, keluarga. Himpunan jurusan saya. Saya tidak bisa mencintai himpunan terlalu berlebihan. Sebab itu berarti akan ada yang tidak saya cintai. Akan ada yang saya benci. Saya tidak merasa bisa menerima konsekuensi itu. Yang bisa saya jalani hanyalah bahwa kehidupan saya di himpunan hanya sebagian dari hidup saya yang harus saya jalani. Maka saya tidak mungkin bisa mengatakan semudah teman saya bilang : Himpunan saya adalah keluarga saya. Karena konsekuensi menyebut “keluarga” itu berat. Dan pastinya akan menimbulkan ideologi yang tidak bisa atau mungkin belum bisa saya terima. Bukan berarti juga saya tidak bersedia berkarya untuknya, sama sekali bukan. Tetapi saya masih meragukan keberadaan himpunan itu sebagai keluarga. Saya masih menimbang-nimbang, apa pantas saya sebut seperti itu. Apa seberharga itu himpunan?

Jawaban saya atas pertanyaan ini masih perlu menunggu waktu. Dan sementara menunggu, saya tidak mungkin berkata: Himpunan ini adalah keluarga, adalah jiwa dan saya adalah bagiannya. Saya hanya bisa berkata, bahwa himpunan ini adalah satu dari sekian fase hidup saya yang harus saya jalani. Baru sebatas itu saja.

- random thought at euphoria

@2 years ago
#TERRA 

"Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa"

(Catatan Seorang Demonstran, h. 101)”
― Soe Hok Gie
@7 months ago

"Doa itu dimana saja, bahkan dari box berkaca tanpa jendela"

@11 months ago

Euforia

eu·fo·ria /éuforia/ n perasaan nyaman atau perasaan gembira yg berlebihan

Bukan,euforia itu bukan perasaan. Euforia itu benda. Sebuah pegangan yang selalu bisa diandalkan ketika kita sudah merasakan kejenuhan dalam rutinitas.  Euforia itu bukan berlebihan. Hanya saja memang kadarnya banyak;tapi tidak berlebihan sekali lagi. Ia semacam jalan keluar atas beban berat dan kepenatan yang sudah kita pupuk dalam-dalam, yang sudah kita kumpulkan. Yang kemudian kita ledakkan dalam satu momen secara bersamaan. Dan lalu Puuufff…. hilang semuanya.

Euforia tidak langsung didapat, tidak mendatangi kita serta merta. Butuh perjuangan, butuh ketabahan, kesabaran dan penantian. Lama tidaknya relatif.

Tapi setahu saya, Euforia itu langka. Tidak hanya langka, tapi juga mahal dan sedikit. Kalo dalam besaran waktunya, kita bisa sebut “sebentar”. Dan tentu saja, dia tidak berbekas. Mungkin ada yang bilang ” tapi kan ada kenangannya”. Ya, itu “kenangan” hasil dari suaatu momen. Sedangkan euforia itu sendiri tidak berbekas.

Seperti mabuk-bahkan mabukpun juga euforia-euforia membawa kita melayang ke dunia lain

@2 years ago

Pesimisme

Hidup ini seharusnya dijalani dengan rasa pesimis yang tinggi. Bukan Optimisme, karena Optimisme akan menumbuhkan ekspektasi. Dan dari ekspektasi kita akan berusaha dengan sangat keras-terlalu keras-hingga kita melebihi batas.

Jika gagal, yang tersisa adalah kekecewaan. meskipun banyak orang bilang kita bisa mengambil hikmah dari kegagalan, tapi tetap, tidak merubah kenyataan bahwa kita pernah gaal. Dan jika dianalogikan dengan luka, itu sama saja dengan bekas luka yang dalam dan tidak akan hilang setelah luka sembuh.

Jika berhasil, maka yang ada hanya kemunculan ekspektasi - ekspektasi lain, yang terkadang berlebih. Ini yang merupakan bibit - bibit keserakahan. Maka akan menjadi rangkaian yang tak berujung.

Sementara orang yang hidup dengan rasa pesimisme tinggi tidak akan mengharapkan hal yang terlalu berlebihan. Ekspektasi orang - orang pesimis sangat rendah. Memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi.

Ketika gagal orang pesimis tidak akan kecewa sebab memang ini yang dibayangkan akan terjadi. Sementara ketika berhasil, tidak akan muncul ekspektasi berlebih, karena jauh di lubuk hati, orang pesimis akan bilang : Ini hanya terjadi sekali dalam seribu, lain kali pasti tidak akan semudah ini, pasti gagal.

Maka dari pesimisme akan tumbuh jiwa yang merasa cukup dan tidak serakah.

- Random thought of mine  

@2 years ago